anak-anak bermain dan berenang di sungai yang sudah dibendung dengan tumpukan batu dikawasan Puthok Gong NKRITERKINI.COM - KEDIRI. Ad...
![]() |
| anak-anak bermain dan berenang di sungai yang sudah dibendung dengan tumpukan batu dikawasan Puthok Gong |
NKRITERKINI.COM - KEDIRI. Ada objek wisata bergenre "etnic" yang masih tergolong "new entry", bahkan usianya relatif masih muda, karena belum genap setahun, pasca ditemukannya Candi Puthok Gong pada bulan Juni lalu.
Kawasan Puthok Gong yang berlokasi di Desa Krecek, Kecamatan Badas, dulunya identik bernuansa "horror", pelan tapi pasti kini berubah 180 derajat.
Misteri alunan gamelan yang didominasi suara gong pada malam tertentu, menjadikan kawasan itu diliputi tanda tanya besar. Selain itu, suasana mencekam beraroma mistis, membuat bulu kuduk merinding ketika berada disekitar lokasi, karena tidak adanya setitik cahaya yang menerangi pada malam hari.
Tidak hanya suara gong maupun gelapnya pada malam hari dikawasan tersebut, penampakan makhluk astral tak luput mewarnai kawasan yang dulunya dinobatkan warga sekitar sebagai kawasan angker. Dari perwujudan kuntilanak, sundelbolong, genderuwo hingga pocong, pernah menunjukkan eksistensinya disekitar lokasi ini.
Diungkapkan Budi Santoso dari Damar Panuluh Nusantara (senin,11/11/2019), rumput liar yang dulunya menguasai kawasan tersebut, telah lenyap, usai dilakukan gotong royong secara berkelanjutan dan berkesinambungan, baik dari Damar Panuluh Nusantara sendiri, warga sekitar, dan komunitas pecinta budaya lainnya.
Gotong royong itu sendiri dilakukan secara sukarela, bahkan isi kantong pribadi atau swadaya, terpaksa keluar untuk pengadaan logistik. Respon positif warga sekitar, juga ikut membawa dampak selama perubahan demi perubahan dilakukan dilokasi itu.
Dijelaskan Haryono dari Damar Panuluh Nusantara, ada 4 objek pendukung yang saat ini masih terus dalam pengembangan, dan 1 objek moda transportasi darat.
Keempat objek itu, palenggahan yang bernuansa tradisional, patirtan, taman, dan sungai yang bernuansa "natural". Sedangkan objek moda transportasi darat, berupa jembatan pelintas sungai bagi wisatawan yang berniat menuju ke lokasi.
Candi Puthok Gong sendiri, masih belum menampilkan kondisi yang sempurna, karena sebagian bangunan, diyakini masih tertimbun tanah. Wujud dari candi itu, baru sebatas 1,6 meter dari atas permukaan tanah disekitarnya atau bagian paling atas bangunan.
Sebagaimana dikatakan Erwin dari Damar Panuluh Nusantara, dengan melestarikan sekaligus memelihara benda-benda purbakala yang berstatus warisan para leluhur, sama halnya menjaga sejarah peradaban masa lalu.
Lanjutnya, benda-benda tersebut dibuat tidak mudah, bahkan bisa dibilang rumit, bahkan ada sebagian yang tidak masuk dinalar dalam proses pembuatannya.
Menurutnya, belum tentu dengan peralatan modern "jaman now" bisa membuatnya sama persis. Padahal, peralatan yang digunakan masa lalu, berstatus kuno atau "jadul".
Perubahan dikawasan tersebut, tidak lepas dari kesadaran membangun kembali kejayaan nusantara, melalui perwujudan benda-benda berstatus purbakala, khususnya di Kediri. Keberadaan benda-benda itu membuktikan adanya peradaban masa lalu, yang digambarkan dalam bentuk relief, konstruksi bangunan maupun patung.
Sementara itu, Rianto dari Damar Panuluh Nusantara, menjelaskan seputar pembuatan sungai bernuansa natural yang lokasinya berdekatan dengan Candi Puthok Gong.
Batu-batu berukuran sedang, ditumpuk membentang, dan membendung selebar sungai yang mengalir dibawah jembatan. Tumpukan batu tersebut dibuat secara berundak atau beranak tangga.
Otomatis, bendungan batu setinggi tidak lebih dari satu meter itu, permukaan airnya tidak sama, atau dalam artian permukaan sebelum air melewati bendungan lebih tinggi dibanding sesudah melewati bendungan.
Air yang mengalir melewati bebatuan paling atas dari bendungan itu, menimbulkan suara yang berciri khas, sekaligus menimbulkan kesan kondisi alam pedesaan, dan kejernihan air memunculkan pandangan yang "original", karena belum tersentuh limbah industri maupun limbah rumah tangga.
Saat ini, selepas pulang sekolah, anak-anak yang berdomisili disekitarnya, meluangkan waktu untuk mendinginkan badan diantara aliran sungai dikawasan itu. Tidak ada lagi rasa takut dari diri anak-anak ini, karena kawasan tersebut sudah berubah jauh dari kesan angker.
Kawasan Candi Puthok Gong mulai menarik perhatian, dari warga sekitar hingga para pecinta budaya. Bahkan, sudah masuk daftar kunjungan "extra" para pelajar, dari strata pendidikan TK hingga SD, untuk pengenalan budaya dalam wujud benda purbakala. (dodik)

