NKRITERKINI.COM-MALANG. Tanaman yang satu ini, mudah sekali dijumpai di Desa Tulungrejo, Kecamatan Kandangan, salah satunya dipekaran...
NKRITERKINI.COM-MALANG. Tanaman yang satu ini, mudah sekali dijumpai di Desa Tulungrejo, Kecamatan Kandangan, salah satunya dipekarangan milik Gianto (rabu,16/10/2019).
Tanaman tomat tumbuh subur diatas lahan seluas 342 meter persegi, terlihat berderet rapi dibawah green house dengan kelebaran 9 meter, panjang 38 meter, dan tinggi 3 meter.
Dari pengukuran lewat aplikasi berbasis android, dataran didesa tersebut tercatat berada pada ketinggian 623 mdpl (meter diatas permukaan laut).
Gianto menjelaskan, tanaman tomat yang dibudidayakan saat ini, bisa dipanen 4 kali dalam setahun atau tiap 3 bulan sekali. Hal itu mengacu masa atau usia panen 90 hari.
Tiap tanaman diatur berjarak 0,5 meter dari belakang hingga kedepan, dan jarak 1 meter dari samping. Pengaturan jarak dilakukan agar buah tonat bisa mencapai besar maksimal ketika masa panen.
Setiap batang tanaman tomat, ditancapkan batang bambu sebagai pondasi pertumbuhan dari batang tanaman, sehingga tanaman bisa berdiri tegak.
Secara keseluruhan, ada 420 tanaman tomat yang dibudidayakan Gianto, dan setiap tanaman bisa menghasilkan 2 kilogram hingga 3 kilogram sekali panen. Bila mengacu hitungan matematika, dalam sekali panen, bisa dihasilkan 0,84 ton hingga 1,26 ton.
Harga tomat yang naik turun, menyebabkan keuntungan petani tidak stabil. Petani bisa meraup rupiah dengan nominal cukup besar, tetapi sewaktu-waktu bisa mengalami kerugian besar, saat anjloknya harga dipasaran.
Harga jual tomat terendah berada pada nominal Rp 400 perkilogram, sedangkan harga tertinggi mencapai Rp 6.000 perkilogram.
Bila merujuk dari harga terendah, hasil panen yang didapat Gianto mencapai Rp 320.000 hingga Rp 480.000. Tetapi, bila mengacu harga tertinggi, panen yang dihasilkan bisa menembus nominal Rp 4.800.000 hingga Rp 7.200.000.
Hasil maksimal dari budidaya tomat tersebut, cukup menggiurkan, lantaran hanya mengolah lahan seluas 342 meter atau 0,03 hektar saja, bisa melampaui hasil panen tanaman pangan, seperti padi.
Namun, ketika mengalami hasil minimal alias harga anjlok, petani harus memutar otak untuk mengembalikan modal pengolahan yang sudah dikeluarkannya. (dodik)

